Tak jarang aku mengunjungi rumah itu untuk berbagi sebuah kisah, makna dan sebuah cerita yang nanti membuat aku, dia, mereka dan seisi rumah itu tertawa terbahak-bahak dengan tingkah sahabat saya Si Bolong. Berkali-kali dia membuat ulah apa saja hanya untuk membuat kami tertawa. Tidak hanya Si Bolong yang pandai membuat suasana ramai tapi Si Pace juga yang tidak juga mau kalah dengan Si bolong dalam membuat kami kembali tertawa lagi. Begitulah kerap kali tercipta suasana yang ramai penuh kebahagiaan yang kudapat ketika setiap kali aku berkunjung ke rumah itu, rumah yang sangat sederhana tapi di dalamnya penuh cinta kasih dan kedamaian.
Menjelang maghrib, sepulang kuliah, terasa gamang jiwa ini, gelisah, stres karena memikirkan tugas yang menumpuk dari setiap dosen mata kuliah aku. Aku tidak membuang waktu lagi untuk segera mandi, karena malam sebentar lagi akan mengajak kita untuk beronani rasa di balik kerajaan hitamnya, yang terkadang rasa yang tercipta kerap menagihku dalam mimpi. Pikirku setelah mandi jiwa kembali lagi segar dan gelisah tak lagi menghantuiku meski tugas yang menumpuk, tetapi setelah mandi hanya perasaan segar saja yang sebelumnya panas terasa tubuhku beraktivitas seharian.
“Sepertinya aku butuh refreshing dulu bro”
Bolong dengan gayanya yang lucu menjawabku
“ok bro, kita refreshing dulu malam ini”
Dengan sedikit bercanda.
“mau kemana? Ke Tanjung, ke anjungan atau kita mutar-mutar kota makassar menikmati hiasan lampu malam”
Bolong memberiku banyak pilihan untuk bersantai menghilangkan kejenuhanku.
Begitulah biasanya aku ketika merasa jenuh, aku keliling kota makassar dengan motor buntutku bersama Bolong mutar-mutar kota makassar menyaksikan realitas dan gemerlapnya lampu malam, dan kadang juga nongkrong di pinggiran jalan sekitar anjungan menikmati sepiring Pisang Epe dan segelas jus alfokat. Setelah merasa puas lalu kami pulang ke rumah menyulam kembali mimpi-mimpi dalam kerajaan hitam tadi.
“ah, tidak ada yang menarik” jawabku pada Bolong
“lalu di mana yang bagus menurutmu” Bolong kembali bertanya.
“kalau begitu kita ke rumah Pace (sahabat baik aku dan bolong)”
“lama rasanya kita tidak pernah ke sana kan”
Sedikit bersemangat ketika ide itu aku tawarkan ke Bolong.
“ia yah, bagus juga ide kamu” jawab Bolong
“hhmm... kayak tidak tau aja kamu”
Aku berdiri sambil menepuk bahu Bolong mengisyaratakan segera bergegas.
“kalau begitu aku mandi dululah biar wangi sampai di sana, malu kan kalau berantakan sampai di rumah pace”
Jawab Bolong, lalu dia berdiri dan langsung menuju kamar mandi
“ayo, cepatlah kalau begitu” aku menjawab Bolong.
Merasa bahwa aku juga tak harus kalah dengan Bolong, aku pun menuju kamar untuk menyemprotkan parfum ke seluruh badan aku agar juga tidak merasa kalah dengan Bolong. Sambil menunggu bolong mandi, untuk membuat perjalanan kami tidak sia-sia dan tidak berujung kecewa, aku layangkan sms ke Pace untuk memastikan keberadaannya di rumah, karena dia juga orang sibuk, dia juga punya jadwal kuliah malam dan kadang juga dia berkunjung ke rumah saudaranya yang rumahnya agak sedikit jauh dari tempatnya. Setelah memastikan bahwa Pace ada di rumahnya, aku membuat janji bahwa malam ini aku bersama bolong ingin berkunjung kerumahnya.
“Bolong... ayo cepatlah, aku sudah sms pace bahwa kita mau datang malam ini”
Membuat Bolong supaya lebih cepat lagi bergegasnya.
“tunggu bro, ini juga sudah selesai kok”
Bolong sedikit tergesa-gesa, Dan kami pun berangkat menuju rumah Pace.
Kedatangan aku dan bolong membuat posisi Pace sebagai orang yang paling gagah di rumah itu tergeser, karena di dalam rumah itu, hanya pecelah yang berjenis kelamin laki-laki, dari kelima anaknya semuanya berjenis kelamin perempuan. Kerap kali pace bercanda bahwa dialah paling gagah di rumah itu. Meski aku dan Bolong hanya sebatas teman dengan Pace, tetapi kami sudah menganggapnya sebagai orang tua kami sendiri. Sudah lama kami berteman dengan Pace dan keluarganya, kami juga dianggapnya bagai keluarganya sendiri.
Butuh waktu kurang dari 15 menit untuk sampai ke rumah Pace. Dalam perjalanan aku sering di buatnya tertawa oleh Bolong kadang juga kami cerita untuk membuat perjalanan ke rumah pace tidak terasa lama menempuhnya. Tidak cukup 15 menit aku dan bolong pun sampai kerumah pace. Dari luar rumah Pace. Bolong berteriak
“Pace...... adajaki”
Begitulah tiap kali aku datang bersama Bolong, tidak pernah dia lupa untuk berteriak menandakan bahwa kami sudah datang. Segera mungkin Pace menjemput kami dan mempersilahkan kami masuk di rumahnya, istrinya pun tidak ketinggalan menyuruh kami masuk.
Seperti biasa kami masuk dan di suguhkan secangkir teh panas untuk lebih menghangatkan suasana, membuat perbincangan kami makin seru, dan kadang gelas yang berisi air teh itu kami berebutan mengambilnya, seperti anak kecil kebanyakan yang bertengkar memperebutkan air teh, saling rebut, saling mendahului karena biasanya air teh yang keluar pertama itu hanya dua gelas saja, satu untuk Pace sendiri dan satu untuk antara kami berdua. Begitulah mace (istri pace) dalam menjamu kami karena keseringannya kami bertengkar saling mendahului mengambil gelas berisi teh tersebut, biasanya yang pertama mengambil teh itu aku, karena aku duduk dekat Pace jadi aku yang duluan. Melihat Bolong tidak dapat teh, di situ aku dan Pace meledeknya karena tidak kebagian air teh. Bolong cemberut karena tidak kebagian, Setelah itu Mace mengeluarkan segelas lagi untuk Bolong, tersenyumlah Bolong karena dia juga sudah dapat minumannya. Beegitulah kadang suasana bercanda kami mulai. Hehehehehe....... mengingat momen-momen seperti itu kadang aku tertawa dan tersenyum sendiri.
Malam itu tak seperti biasanya, ketika kami datang, kadang hanya hanya anak ke dua dan anak ke lima saja yang ikut meramaikan suasana bercanda kami. Anak pertama Pace jarang sekali ikut mengisi suasana bercanda kami, itu karena dia juga sibuk dengan urusan kuliahnya dan juga urusan kerjanya sehingga ketika kami datang, dia belum pulang dari tempat kerjanya.
Nah kawan, Aku duduk di samping Pace dan Bolong ada di samping kiri aku, dan kini seperti juga biasanya yang duduk di pojok kanan ruangan itu adalah salah satu anak dari Pace. Kali ini suasananya bede, karena setahuku semua anak Pace berambut panjang, tidak ada yang rambutnya sebahu. Awalnya dalam hati sedikit penasaran juga, tetapi rasa penasaran itu aku tepis, dalam hatiku berkata, “itu kan anak kedua Paece, yang mungkin dia baru potong rambutnya tadi”. Aku memang tidak bisa langsung memastikan bahwa siapa yang duduk di pojok kanan ruangan itu, karena posisi duduknya membelakangiku. Dia asik duduk di depan leptop kesayangannya dan lupa menoleh menyapa kami. Dari awal juga memang aku mengira dia itu anak ke dua pace yang mungkun lagi serius membut tugas dari dosennya.
Rasa penasaranku pun hilang dan Pace memulai pembicaraannya yang dia alami di sekolah tempat mengajarnya. Pace memang suka sekali menceritakan pengalama-pengalamannya kepada kami berdua dan dia warnai dengan cerita-cerita yang lucu, karena lucunya sontak juga kami semua tertawa terbahak-bahak waktu mendengar ceritanya itu, seketika itu pula anak pace yang duduk di pojokan sana juga ikut tertawa dan saat itu pula sambil tertawa dia pun menoleh ke arah kami, senyumnya seakan mewakili semua para bidadari-bidari dari surga, sungguh menawan, ditambah bibirnya yang merah menambah kesempurnaan pesonya, sungguh pesonnya adalah manifestasi dari Cleopatra.
Akhirnya anak Pace yang berambut sebahu itu terungkaplah olehku bahwa yang duduk di pojokan sana adalah anak Pace yang pertama (anak sulungnya). Bagiku jarang sekali aku meihat dia ketika aku dan Bolong berkunjung ke rumahnya. Sepulang dari kuliah dia menghasibkan harinnya di tempat kerjanya sampai malam tiba, kira-kira sampai jam 22.00 Wita baru ia pulang ke rumahnya, jadi untuk dapat berjumpa dengannya adalah suatu keberuntungan basar dan mendapatkan senyumnya pula adalah anugerah terindah bagiku.
Tidak sia-sialah ide aku berkunjung ke rumah Pace dalam menghilangkan kejenuhanku seharian tadi. Kini kejenuhan itu berbalaskan sebuah semangat baru dan jiwa baru tuk melangkah ke hari-hari selanjutnya. Tak sadar bahwa aku telah mencuri senyumnya tadi sebagai bekalku dalam mewujudkan inginku meski itu hanya dalam dunia-dunia mimpi. Aku telah mengantongi berkas-berkas senyumnya dan akan kuhiasinya dengan manik-manik dari surgawi, menempatkannya di singgasana para dewa-dewa.
Malam semakin larut dengan canda tawa kami. Aku pun pulang tanpa kejenuhan lagi, tawa riang mengantarku pulang bersama Bolong.
Tidak akan kulupa ranbutnya yang sebahu dengan seberkas senyumnya dan itu akan menjadi spirit bagiku.
“Thankzz..............!!!!”
#Minggu malam 09-10-2011#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar