Kawin di usia muda memberi pelajaran yang amat berarti bagi keluarga yang lain, tamat SMA Jamal melamarku, padahal iapun masih kuliah Semester 3. Kami berumah tangga tanpa pekerjaan, hanya tergantung kepada masing-masing kedua orang tua. Toh juga mereka setuju, artinya mereka sanggup membiayai kami. Namun, nasib tidak berpihak kepada kami. Orang tua Jamal bangkrut menjelang setahun usia perkawinan kami. Akhirnya Jamal meninggalkan kuliah dan membantu kakekku menjual kantong kertas di pasar demi kelanjutan kuliahku.
Diploma 2 Bahasa Indonesia kuselesaikan meskipun semua itu kulewati dengan berbagai kesulitan. Berjualan kue, hamil dan melahirkan anak pertamaku. Berkali-kali melamar pekerjaan, tapi aku gagal. Kucoba melamar menjadi guru honor di salah satu sekolah Muhammadiyah tingkat SMP di kotaku, aku diterima. Honornya cukup lumayan dapat membantu Jamal mengatasi kebutuhan harian kami, asalkan setiap kali ke sekolah berjalan kaki.
Delapan tahun aku nganggur kuliah, kulanjutkan lagi untuk memperoleh gelar S1 saat peluang pendaftaran PNS sulit dengan gelar Diploma. Biaya kuliah kusisipkan dari keuntungan menjual kosmetik dan cicilan seprey. Repot juga membagi waktuku antara mengajar, kuliah dan jualan, namun segalanya harus
kujalani, mumpung Jamal mendukung usahaku ini. Toh juga aku masih punya waktu mengurus rumah tangga.
Jualan kosmetik memang mengasyikkan, apalagi bila bertemu dengan pelanggan yang ramah dan pengertian. Tapi payah juga bila bertemu pelanggan yang rewel dan sok tahu. Dan lebih seru lagi bila bertemu pelanggan yang bermasalah, bisa-bisa aku kena getahnya. Kejadian yang menegangkan itu pernah kualami, membuat nyaliku lemah tak berdaya. Ingin rasanya pekerjaan itu kutinggalkan Berinteraksi dengan masyarakat yang awam seperti ini memang sulit. Sampai kapanpun kejadian ini takkan pernah lenyap dari ingatanku.
Disuatu malam bintang enggan menemani bulan, gerimis hujan menerpah tubuhku yang kurus. Di depan pintu pagar Jamal berdiri, matanya yang bulat tajam menatapku dan bertanya sambil melangkah ke kamar,
“Dari mana kamu, malam-malam begini baru pulang?”
Aku tak langsung menjawab, kantong plastik berisi dagangan kosmetik yang sejak tadi kujinjing kusimpan dan aku duduk di pinggir ranjang. Mata Jamal mengikuti gerakku seolah penasaran mendengar jawaban dariku.
“Ada langganan yang bertengkar dengan suaminya karena ia curiga istrinya selingkuh.” ucapku dengan tenang, mekipun perasaanku masih kacau.
“Lalu apa hubungannya dengan kamu?” tanyanya lagi.
“Tadi sore Dg Ludia itu memesan alas bedak, tapi alas bedak yang dicari sudah habis, jadi aku bilang tunggu sebentar mudah-mudahan masih ada di rumah, Makanya tadi aku balik ke rumah,” Jelasku.
“Trus…” ketusnya.
“Suaminya salah sangkah, ketika saya bilang tunggu sebentar yang dimaksud itu kekasih istrinya mau bertemu sebentar. Setelah menagih, kebetulan lewat lorong rumahnya aku singgah dan menyelesaikan masalah itu,” Jelasku tanpa ragu-ragu.
Jamal bertanya lagi dengan penuh semangat, “Jadi sudah selesai?”
Aku tersenyum saja simbol masalah tuntas. Aku tidak mau berterus terang, takut Jamal marah. Peristiwa tadi amat menegangkan ketika suami Dg Ludia menodongkan pistol ke arahku memaksa aku untuk berterus terang. Untung saja Dg Mira tetangga Dg Ludia datang saat mendengar suami dg Ludia membentakku.
“Eh salahki itu kalau ibu Lina yang kita sangkut-pautkan,” bela Dg Mira.
“io tawwa,” Dg ludia membenarkan. Terlihat raut wajahnya penuh penyesalan dan kesal terhadap suaminya yang brutal ini.
Suami Dg Ludia masih bertahan dengan kecurigaannya. Dg Mira berupaya melunakkan hati pak polisi yang masih mabuk dengan berbagai penjelasan. Akhirnya suami Dg Ludia luluh. Aku legah telah terbebas dari kejadian yang memang sama sekali tak seharusnya melibatkanku. Perasaanku seolah dirasakan Dg Mira, terlihat ia amat prihatin padaku. Sakin prihatinya ia mengantarku ke ujung lorong.
“Trima kasih Dg Mira.” Ucapku sambil tersenyum, senyum yang terpaksa kutampakkan untuk mengikis keprihatinan Dg Mira.
“Mudah-mudahan inilah kisah terakhir yang amat dahsyat dalam hidupku” bisik hatiku yang masih dipenuhi ketegangan.
Berakit-rakit dahulu bersenang senang kemudian, pepatah ini telah nampak di pelupuk mata. Tepat kelahiran anak kelima aku menghadapi ujian meja. Tiga hari istirahat di rumah sakit karena melahirkan, tanpa kenal lelah aku menyelesaikan segala tetek bengek persiapan ujian meja. Anakku yang pertama Fathan, sudah dapat membantuku, ia tahu siapa dan di mana ia harus menagih hingga aku menyelesaikan ujian meja.
“Istirahat dulu,” tegur Jamal.
“Tidak ah, daripada saya memikirkan urusanku lebih baik kuselesaikan saja,” sanggahku dengan lembut.
“Iya, tapi kamu baru keluar dari rumah sakit” Jamal menasehati lagi.
“Aku sudah merasa Vit, Insya Allah aku bisa menyelesaikan urusan ini tanpa terjadi apa-apa,” tandasku meyakinkan rasa khawatir Jamal.
Jamal hanya menghela nafas tak dapat menahan keinginanku. Matanya tertuju kepada si bayi lalu bertanya lagi, “Bagaimana si bayi, siapa yang jaga?”
“Mama Nena, sebentar lagi dia kesini,” Jawabku.
“Yah terserah kamulah, yang penting kalau ada apa-apanya jangan salahkan aku,” Jamal mengingatkanku, suara terdengar kesal.
“Marah ya?” tanyaku agak sedikit genit, merayu Jamal agar hatinya lapang menuruti keinginanku.
Bunga yang jatuh sebelum tergenggam kini tak jatuh lagi, tangan ini telah meraihnya. Aku lulus PNS enam bulan setelah ijazah S 1 kuterima, nilai yang kucapai cukup lumayan, Coumlaun. Yah itulah hasil yang harus kusyukuri. Resopa temmannginngi malomo naletei pammasena Dewatae adalah motto orang Bugis yang telah menjadi kenyataan dalam hidupku, aku menuai usaha yang selama ini kulakukan. Kebahagiaan mewarnai keluargaku. Jamalpun termotivasi bekerja, tak mau kalah dengan hasil yang ku peroleh. Kehidupan keluargaku sudah mulai mapan. Anak-anakku tak lagi membantuku berjualan, mereka banyak meluangkan waktu di TPA dan ikut les.
Semakin tinggi pohon semakin deras angin menerpanya. Aku berhasil meraih studi dan karierku. Mendung tentu suatu ketika akan datang dan tak dapat di tolak. Jamal rupanya tak dapat menerima kesibukanku ini. Setiap aku pulang yang terlukis hanya wajah masam, diam dan cepat marah. Pertengkaran sering menghiasi rumah kami.
“Saya lebih baik tinggal di rumah saja, tidak usah susah mencari uang, toh kamu sudah PNS sudah punya pegangan hidup,” ancam Jamal dengan nada tinggi.
“Apa kamu tidak malu, istrimu bekerja sementara kamu hanya berpangku tangan di rumah?” ejekku,
Jamal berdiri di depanku matanya yang bulat semakin bulat memancarkan kemarahan,”Ya…aku tak perduli apa kata orang kalau perlu aku pergi dari rumah ini. Apalagi yang kupikirkan, tanpa aku kau bisa membiayai anakmu,”
“Bagimu, tapi mereka dan aku kan butuh kamu,” jawabku berupaya merendahkan suaraku, takut Jamal membuktikan kata-katanya.
“Apa, butuh aku? He carita itu, kau tidak butuh aku, buktinya kau lebih banyak mengurusi pekerjaanmu sementara aku dan anak tidak pernah kau urus,” tuduhan Jamal membuatku luluh, beberapa kali ia ungkapkan kata-kata ini tapi aku tak pernah melihat ia semarah ini.
Aku melangkah ke arah Jamal berdiri berupaya memberi pengertian, “Aku tidak bermaksud menyia-nyiakan kalian, tapi tidak mungkin aku meninggalkan tugasku, kamu bisa mengerti kan?”
“Ya, tidak mungkin kamu tinggalkan pekerjaanmu itu. Aku tahu kau orang yang paling keras kepala, kau lebih mencintai pekerjaanmu daripada aku suamimu,” bantah Jamal disertai wajah yang terlihat geram seolah kucing yang mau menerkam mangsanya, membuatku tak dapat berkutik.
Seribu penjelasan ingin kuungkapkan tapi Jamal telah membalikkan tubuhnya menuju pintu rumah. Kubiarkan ia pergi, kuyakin ia akan pulang setelah perasaannya tenang. Kubenarkan mengapa ia berlaku demikian, kusadari dulu aku sibuk tapi masih punya waktu untuk mereka. Sekarang kesibukanku semakin bertambah. Pagi hingga sore saya masih berada di sekolah, karena sudah kesepakatan sekolah bahwa guru yang mendapat tunjangan Yayasan, bekerja selama 6 hari mulai pagi sampai sore. Sepulang dari sekolah aku istirahat beberapa jam dan menyelesaikan lagi urusan bisnis yang masih tersisa. Setelah Isya aku harus istirahat, tidur mengumpulkan tenaga untuk esok nanti. Inilah yang membuatku amat sibuk. Salah satu pekerjaan memang harus kulepaskan, agar keduanya bisa berjalan, keluarga dan karier. Toh juga aku bisa fokus ngajar saja.
Malam semakin larut, pintu hanya kututup rapat tak terkunci. Anak-anakku sudah tertidur. Satu persatu wajah mereka kupandangi, mereka tampak tertidur pulas kecuali Fauzan matanya terpejam tapi raut wajahnya memberi
kesan kesedihan. Anakku yang satu ini memiliki jiwa yang lemah. Sudah beberapa kali aku melihat ia menangis saat aku dan bapaknya cekcok. Kuusap satu persatu kepala mereka, tak terasa air mata menetes di pipiku.
Rasa ngantuk mulai terasa, kuberbaring di kursi menanti Jamal pulang. Hati ini semakin tak menentu saat jam dinding menunjukkan pukul 24.00 Wita Jamal belum pulang, berbagai hayalan menyedihkan terlintas dalam pikiranku, Aku semakin khawatir Jamal takkan pulang dan membuktikan kata-katanya. Ia pergi meninggalkan aku dan anak-anakku. Rasa pedih menerawang di hati aku tak dapat lagi menahan derai air mata, kucoba menghentikan tangis ini tapi aku tak mampu. Berteriak memanggil Jamal, ah tidak mungkin, apa kata orang. Mencari Jamal, mana mungkin , malam telah larut.
“Hanya engkau ya Allah yang dapat mengembalikan suamiku, berilah ia petunjuk agar kami dapat bersatu lagi mengarungi bahtera cinta ini bersama anak-anak kami,” pintaku dalam hati. Hanya itulah yang mampu aku lakukan.
Karya: Andi Marliah (mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar)
SMK
Muhda Bontoala