Jumat, 14 Oktober 2011

Rambut sebahu: manifestasi dari Cleopatra

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Tak jarang aku mengunjungi rumah itu untuk berbagi sebuah kisah, makna dan sebuah cerita yang nanti membuat aku, dia, mereka dan seisi rumah itu tertawa terbahak-bahak dengan tingkah sahabat saya Si Bolong. Berkali-kali dia membuat ulah apa saja hanya untuk membuat kami tertawa. Tidak hanya Si Bolong yang pandai membuat suasana ramai tapi Si Pace juga yang tidak juga mau kalah dengan Si bolong dalam membuat kami kembali tertawa lagi. Begitulah kerap kali tercipta suasana yang ramai penuh kebahagiaan yang kudapat ketika setiap kali aku berkunjung ke rumah itu, rumah yang sangat sederhana tapi di dalamnya penuh cinta kasih dan kedamaian.

Menjelang maghrib, sepulang kuliah, terasa gamang jiwa ini, gelisah, stres karena memikirkan tugas yang menumpuk dari setiap dosen mata kuliah aku. Aku tidak membuang waktu lagi untuk segera mandi, karena malam sebentar lagi akan mengajak kita untuk beronani rasa di balik kerajaan hitamnya, yang terkadang rasa yang tercipta kerap menagihku dalam mimpi. Pikirku setelah mandi jiwa kembali lagi segar dan gelisah tak lagi menghantuiku meski tugas yang menumpuk, tetapi setelah mandi hanya perasaan segar saja yang sebelumnya panas terasa tubuhku beraktivitas seharian.

“Sepertinya aku butuh refreshing dulu bro”

Bolong dengan gayanya yang lucu menjawabku

“ok bro, kita refreshing dulu malam ini”

Dengan sedikit bercanda.

“mau kemana? Ke Tanjung, ke anjungan atau kita mutar-mutar kota makassar menikmati hiasan lampu malam”

Bolong memberiku banyak pilihan untuk bersantai menghilangkan kejenuhanku.

Begitulah biasanya aku ketika merasa jenuh, aku keliling kota makassar dengan motor buntutku bersama Bolong mutar-mutar kota makassar menyaksikan realitas dan gemerlapnya lampu malam, dan kadang juga nongkrong di pinggiran jalan sekitar anjungan menikmati sepiring Pisang Epe dan segelas jus alfokat. Setelah merasa puas lalu kami pulang ke rumah menyulam kembali mimpi-mimpi dalam kerajaan hitam tadi.

“ah, tidak ada yang menarik” jawabku pada Bolong

“lalu di mana yang bagus menurutmu” Bolong kembali bertanya.

“kalau begitu kita ke rumah Pace (sahabat baik aku dan bolong)”

“lama rasanya kita tidak pernah ke sana kan”

Sedikit bersemangat ketika ide itu aku tawarkan ke Bolong.

“ia yah, bagus juga ide kamu” jawab Bolong

“hhmm... kayak tidak tau aja kamu”

Aku berdiri sambil menepuk bahu Bolong mengisyaratakan segera bergegas.

“kalau begitu aku mandi dululah biar wangi sampai di sana, malu kan kalau berantakan sampai di rumah pace”

Jawab Bolong, lalu dia berdiri dan langsung menuju kamar mandi

“ayo, cepatlah kalau begitu” aku menjawab Bolong.

Merasa bahwa aku juga tak harus kalah dengan Bolong, aku pun menuju kamar untuk menyemprotkan parfum ke seluruh badan aku agar juga tidak merasa kalah dengan Bolong. Sambil menunggu bolong mandi, untuk membuat perjalanan kami tidak sia-sia dan tidak berujung kecewa, aku layangkan sms ke Pace untuk memastikan keberadaannya di rumah, karena dia juga orang sibuk, dia juga punya jadwal kuliah malam dan kadang juga dia berkunjung ke rumah saudaranya yang rumahnya agak sedikit jauh dari tempatnya. Setelah memastikan bahwa Pace ada di rumahnya, aku membuat janji bahwa malam ini aku bersama bolong ingin berkunjung kerumahnya.

“Bolong... ayo cepatlah, aku sudah sms pace bahwa kita mau datang malam ini”

Membuat Bolong supaya lebih cepat lagi bergegasnya.

“tunggu bro, ini juga sudah selesai kok”

Bolong sedikit tergesa-gesa, Dan kami pun berangkat menuju rumah Pace.

Kedatangan aku dan bolong membuat posisi Pace sebagai orang yang paling gagah di rumah itu tergeser, karena di dalam rumah itu, hanya pecelah yang berjenis kelamin laki-laki, dari kelima anaknya semuanya berjenis kelamin perempuan. Kerap kali pace bercanda bahwa dialah paling gagah di rumah itu. Meski aku dan Bolong hanya sebatas teman dengan Pace, tetapi kami sudah menganggapnya sebagai orang tua kami sendiri. Sudah lama kami berteman dengan Pace dan keluarganya, kami juga dianggapnya bagai keluarganya sendiri.

Butuh waktu kurang dari 15 menit untuk sampai ke rumah Pace. Dalam perjalanan aku sering di buatnya tertawa oleh Bolong kadang juga kami cerita untuk membuat perjalanan ke rumah pace tidak terasa lama menempuhnya. Tidak cukup 15 menit aku dan bolong pun sampai kerumah pace. Dari luar rumah Pace. Bolong berteriak

“Pace...... adajaki”

Begitulah tiap kali aku datang bersama Bolong, tidak pernah dia lupa untuk berteriak menandakan bahwa kami sudah datang. Segera mungkin Pace menjemput kami dan mempersilahkan kami masuk di rumahnya, istrinya pun tidak ketinggalan menyuruh kami masuk.

Seperti biasa kami masuk dan di suguhkan secangkir teh panas untuk lebih menghangatkan suasana, membuat perbincangan kami makin seru, dan kadang gelas yang berisi air teh itu kami berebutan mengambilnya, seperti anak kecil kebanyakan yang bertengkar memperebutkan air teh, saling rebut, saling mendahului karena biasanya air teh yang keluar pertama itu hanya dua gelas saja, satu untuk Pace sendiri dan satu untuk antara kami berdua. Begitulah mace (istri pace) dalam menjamu kami karena keseringannya kami bertengkar saling mendahului mengambil gelas berisi teh tersebut, biasanya yang pertama mengambil teh itu aku, karena aku duduk dekat Pace jadi aku yang duluan. Melihat Bolong tidak dapat teh, di situ aku dan Pace meledeknya karena tidak kebagian air teh. Bolong cemberut karena tidak kebagian, Setelah itu Mace mengeluarkan segelas lagi untuk Bolong, tersenyumlah Bolong karena dia juga sudah dapat minumannya. Beegitulah kadang suasana bercanda kami mulai. Hehehehehe....... mengingat momen-momen seperti itu kadang aku tertawa dan tersenyum sendiri.

Malam itu tak seperti biasanya, ketika kami datang, kadang hanya hanya anak ke dua dan anak ke lima saja yang ikut meramaikan suasana bercanda kami. Anak pertama Pace jarang sekali ikut mengisi suasana bercanda kami, itu karena dia juga sibuk dengan urusan kuliahnya dan juga urusan kerjanya sehingga ketika kami datang, dia belum pulang dari tempat kerjanya.

Nah kawan, Aku duduk di samping Pace dan Bolong ada di samping kiri aku, dan kini seperti juga biasanya yang duduk di pojok kanan ruangan itu adalah salah satu anak dari Pace. Kali ini suasananya bede, karena setahuku semua anak Pace berambut panjang, tidak ada yang rambutnya sebahu. Awalnya dalam hati sedikit penasaran juga, tetapi rasa penasaran itu aku tepis, dalam hatiku berkata, “itu kan anak kedua Paece, yang mungkin dia baru potong rambutnya tadi”. Aku memang tidak bisa langsung memastikan bahwa siapa yang duduk di pojok kanan ruangan itu, karena posisi duduknya membelakangiku. Dia asik duduk di depan leptop kesayangannya dan lupa menoleh menyapa kami. Dari awal juga memang aku mengira dia itu anak ke dua pace yang mungkun lagi serius membut tugas dari dosennya.

Rasa penasaranku pun hilang dan Pace memulai pembicaraannya yang dia alami di sekolah tempat mengajarnya. Pace memang suka sekali menceritakan pengalama-pengalamannya kepada kami berdua dan dia warnai dengan cerita-cerita yang lucu, karena lucunya sontak juga kami semua tertawa terbahak-bahak waktu mendengar ceritanya itu, seketika itu pula anak pace yang duduk di pojokan sana juga ikut tertawa dan saat itu pula sambil tertawa dia pun menoleh ke arah kami, senyumnya seakan mewakili semua para bidadari-bidari dari surga, sungguh menawan, ditambah bibirnya yang merah menambah kesempurnaan pesonya, sungguh pesonnya adalah manifestasi dari Cleopatra.

Akhirnya anak Pace yang berambut sebahu itu terungkaplah olehku bahwa yang duduk di pojokan sana adalah anak Pace yang pertama (anak sulungnya). Bagiku jarang sekali aku meihat dia ketika aku dan Bolong berkunjung ke rumahnya. Sepulang dari kuliah dia menghasibkan harinnya di tempat kerjanya sampai malam tiba, kira-kira sampai jam 22.00 Wita baru ia pulang ke rumahnya, jadi untuk dapat berjumpa dengannya adalah suatu keberuntungan basar dan mendapatkan senyumnya pula adalah anugerah terindah bagiku.

Tidak sia-sialah ide aku berkunjung ke rumah Pace dalam menghilangkan kejenuhanku seharian tadi. Kini kejenuhan itu berbalaskan sebuah semangat baru dan jiwa baru tuk melangkah ke hari-hari selanjutnya. Tak sadar bahwa aku telah mencuri senyumnya tadi sebagai bekalku dalam mewujudkan inginku meski itu hanya dalam dunia-dunia mimpi. Aku telah mengantongi berkas-berkas senyumnya dan akan kuhiasinya dengan manik-manik dari surgawi, menempatkannya di singgasana para dewa-dewa.

Malam semakin larut dengan canda tawa kami. Aku pun pulang tanpa kejenuhan lagi, tawa riang mengantarku pulang bersama Bolong.

Tidak akan kulupa ranbutnya yang sebahu dengan seberkas senyumnya dan itu akan menjadi spirit bagiku.

“Thankzz..............!!!!”

#Minggu malam 09-10-2011#

Selasa, 11 Oktober 2011

Saat Bunga Tergenggam

Kawin di usia muda memberi pelajaran yang amat berarti bagi keluarga yang lain, tamat SMA Jamal melamarku, padahal iapun masih kuliah Semester 3. Kami berumah tangga tanpa pekerjaan, hanya tergantung kepada masing-masing kedua orang tua. Toh juga mereka setuju, artinya mereka sanggup membiayai kami. Namun, nasib tidak berpihak kepada kami. Orang tua Jamal bangkrut menjelang setahun usia perkawinan kami. Akhirnya Jamal meninggalkan kuliah dan membantu kakekku menjual kantong kertas di pasar demi kelanjutan kuliahku.

Diploma 2 Bahasa Indonesia kuselesaikan meskipun semua itu kulewati dengan berbagai kesulitan. Berjualan kue, hamil dan melahirkan anak pertamaku. Berkali-kali melamar pekerjaan, tapi aku gagal. Kucoba melamar menjadi guru honor di salah satu sekolah Muhammadiyah tingkat SMP di kotaku, aku diterima. Honornya cukup lumayan dapat membantu Jamal mengatasi kebutuhan harian kami, asalkan setiap kali ke sekolah berjalan kaki.

Delapan tahun aku nganggur kuliah, kulanjutkan lagi untuk memperoleh gelar S1 saat peluang pendaftaran PNS sulit dengan gelar Diploma. Biaya kuliah kusisipkan dari keuntungan menjual kosmetik dan cicilan seprey. Repot juga membagi waktuku antara mengajar, kuliah dan jualan, namun segalanya harus

kujalani, mumpung Jamal mendukung usahaku ini. Toh juga aku masih punya waktu mengurus rumah tangga.

Jualan kosmetik memang mengasyikkan, apalagi bila bertemu dengan pelanggan yang ramah dan pengertian. Tapi payah juga bila bertemu pelanggan yang rewel dan sok tahu. Dan lebih seru lagi bila bertemu pelanggan yang bermasalah, bisa-bisa aku kena getahnya. Kejadian yang menegangkan itu pernah kualami, membuat nyaliku lemah tak berdaya. Ingin rasanya pekerjaan itu kutinggalkan Berinteraksi dengan masyarakat yang awam seperti ini memang sulit. Sampai kapanpun kejadian ini takkan pernah lenyap dari ingatanku.

Disuatu malam bintang enggan menemani bulan, gerimis hujan menerpah tubuhku yang kurus. Di depan pintu pagar Jamal berdiri, matanya yang bulat tajam menatapku dan bertanya sambil melangkah ke kamar,

“Dari mana kamu, malam-malam begini baru pulang?”

Aku tak langsung menjawab, kantong plastik berisi dagangan kosmetik yang sejak tadi kujinjing kusimpan dan aku duduk di pinggir ranjang. Mata Jamal mengikuti gerakku seolah penasaran mendengar jawaban dariku.

“Ada langganan yang bertengkar dengan suaminya karena ia curiga istrinya selingkuh.” ucapku dengan tenang, mekipun perasaanku masih kacau.

“Lalu apa hubungannya dengan kamu?” tanyanya lagi.

“Tadi sore Dg Ludia itu memesan alas bedak, tapi alas bedak yang dicari sudah habis, jadi aku bilang tunggu sebentar mudah-mudahan masih ada di rumah, Makanya tadi aku balik ke rumah,” Jelasku.

“Trus…” ketusnya.

“Suaminya salah sangkah, ketika saya bilang tunggu sebentar yang dimaksud itu kekasih istrinya mau bertemu sebentar. Setelah menagih, kebetulan lewat lorong rumahnya aku singgah dan menyelesaikan masalah itu,” Jelasku tanpa ragu-ragu.

Jamal bertanya lagi dengan penuh semangat, “Jadi sudah selesai?”

Aku tersenyum saja simbol masalah tuntas. Aku tidak mau berterus terang, takut Jamal marah. Peristiwa tadi amat menegangkan ketika suami Dg Ludia menodongkan pistol ke arahku memaksa aku untuk berterus terang. Untung saja Dg Mira tetangga Dg Ludia datang saat mendengar suami dg Ludia membentakku.

“Eh salahki itu kalau ibu Lina yang kita sangkut-pautkan,” bela Dg Mira.

“io tawwa,” Dg ludia membenarkan. Terlihat raut wajahnya penuh penyesalan dan kesal terhadap suaminya yang brutal ini.

Suami Dg Ludia masih bertahan dengan kecurigaannya. Dg Mira berupaya melunakkan hati pak polisi yang masih mabuk dengan berbagai penjelasan. Akhirnya suami Dg Ludia luluh. Aku legah telah terbebas dari kejadian yang memang sama sekali tak seharusnya melibatkanku. Perasaanku seolah dirasakan Dg Mira, terlihat ia amat prihatin padaku. Sakin prihatinya ia mengantarku ke ujung lorong.

“Trima kasih Dg Mira.” Ucapku sambil tersenyum, senyum yang terpaksa kutampakkan untuk mengikis keprihatinan Dg Mira.

“Mudah-mudahan inilah kisah terakhir yang amat dahsyat dalam hidupku” bisik hatiku yang masih dipenuhi ketegangan.

Berakit-rakit dahulu bersenang senang kemudian, pepatah ini telah nampak di pelupuk mata. Tepat kelahiran anak kelima aku menghadapi ujian meja. Tiga hari istirahat di rumah sakit karena melahirkan, tanpa kenal lelah aku menyelesaikan segala tetek bengek persiapan ujian meja. Anakku yang pertama Fathan, sudah dapat membantuku, ia tahu siapa dan di mana ia harus menagih hingga aku menyelesaikan ujian meja.

“Istirahat dulu,” tegur Jamal.

“Tidak ah, daripada saya memikirkan urusanku lebih baik kuselesaikan saja,” sanggahku dengan lembut.

“Iya, tapi kamu baru keluar dari rumah sakit” Jamal menasehati lagi.

“Aku sudah merasa Vit, Insya Allah aku bisa menyelesaikan urusan ini tanpa terjadi apa-apa,” tandasku meyakinkan rasa khawatir Jamal.

Jamal hanya menghela nafas tak dapat menahan keinginanku. Matanya tertuju kepada si bayi lalu bertanya lagi, “Bagaimana si bayi, siapa yang jaga?”

“Mama Nena, sebentar lagi dia kesini,” Jawabku.

“Yah terserah kamulah, yang penting kalau ada apa-apanya jangan salahkan aku,” Jamal mengingatkanku, suara terdengar kesal.

“Marah ya?” tanyaku agak sedikit genit, merayu Jamal agar hatinya lapang menuruti keinginanku.

Bunga yang jatuh sebelum tergenggam kini tak jatuh lagi, tangan ini telah meraihnya. Aku lulus PNS enam bulan setelah ijazah S 1 kuterima, nilai yang kucapai cukup lumayan, Coumlaun. Yah itulah hasil yang harus kusyukuri. Resopa temmannginngi malomo naletei pammasena Dewatae adalah motto orang Bugis yang telah menjadi kenyataan dalam hidupku, aku menuai usaha yang selama ini kulakukan. Kebahagiaan mewarnai keluargaku. Jamalpun termotivasi bekerja, tak mau kalah dengan hasil yang ku peroleh. Kehidupan keluargaku sudah mulai mapan. Anak-anakku tak lagi membantuku berjualan, mereka banyak meluangkan waktu di TPA dan ikut les.

Semakin tinggi pohon semakin deras angin menerpanya. Aku berhasil meraih studi dan karierku. Mendung tentu suatu ketika akan datang dan tak dapat di tolak. Jamal rupanya tak dapat menerima kesibukanku ini. Setiap aku pulang yang terlukis hanya wajah masam, diam dan cepat marah. Pertengkaran sering menghiasi rumah kami.

“Saya lebih baik tinggal di rumah saja, tidak usah susah mencari uang, toh kamu sudah PNS sudah punya pegangan hidup,” ancam Jamal dengan nada tinggi.

“Apa kamu tidak malu, istrimu bekerja sementara kamu hanya berpangku tangan di rumah?” ejekku,

Jamal berdiri di depanku matanya yang bulat semakin bulat memancarkan kemarahan,”Ya…aku tak perduli apa kata orang kalau perlu aku pergi dari rumah ini. Apalagi yang kupikirkan, tanpa aku kau bisa membiayai anakmu,”

“Bagimu, tapi mereka dan aku kan butuh kamu,” jawabku berupaya merendahkan suaraku, takut Jamal membuktikan kata-katanya.

“Apa, butuh aku? He carita itu, kau tidak butuh aku, buktinya kau lebih banyak mengurusi pekerjaanmu sementara aku dan anak tidak pernah kau urus,” tuduhan Jamal membuatku luluh, beberapa kali ia ungkapkan kata-kata ini tapi aku tak pernah melihat ia semarah ini.

Aku melangkah ke arah Jamal berdiri berupaya memberi pengertian, “Aku tidak bermaksud menyia-nyiakan kalian, tapi tidak mungkin aku meninggalkan tugasku, kamu bisa mengerti kan?”

“Ya, tidak mungkin kamu tinggalkan pekerjaanmu itu. Aku tahu kau orang yang paling keras kepala, kau lebih mencintai pekerjaanmu daripada aku suamimu,” bantah Jamal disertai wajah yang terlihat geram seolah kucing yang mau menerkam mangsanya, membuatku tak dapat berkutik.

Seribu penjelasan ingin kuungkapkan tapi Jamal telah membalikkan tubuhnya menuju pintu rumah. Kubiarkan ia pergi, kuyakin ia akan pulang setelah perasaannya tenang. Kubenarkan mengapa ia berlaku demikian, kusadari dulu aku sibuk tapi masih punya waktu untuk mereka. Sekarang kesibukanku semakin bertambah. Pagi hingga sore saya masih berada di sekolah, karena sudah kesepakatan sekolah bahwa guru yang mendapat tunjangan Yayasan, bekerja selama 6 hari mulai pagi sampai sore. Sepulang dari sekolah aku istirahat beberapa jam dan menyelesaikan lagi urusan bisnis yang masih tersisa. Setelah Isya aku harus istirahat, tidur mengumpulkan tenaga untuk esok nanti. Inilah yang membuatku amat sibuk. Salah satu pekerjaan memang harus kulepaskan, agar keduanya bisa berjalan, keluarga dan karier. Toh juga aku bisa fokus ngajar saja.

Malam semakin larut, pintu hanya kututup rapat tak terkunci. Anak-anakku sudah tertidur. Satu persatu wajah mereka kupandangi, mereka tampak tertidur pulas kecuali Fauzan matanya terpejam tapi raut wajahnya memberi

kesan kesedihan. Anakku yang satu ini memiliki jiwa yang lemah. Sudah beberapa kali aku melihat ia menangis saat aku dan bapaknya cekcok. Kuusap satu persatu kepala mereka, tak terasa air mata menetes di pipiku.

Rasa ngantuk mulai terasa, kuberbaring di kursi menanti Jamal pulang. Hati ini semakin tak menentu saat jam dinding menunjukkan pukul 24.00 Wita Jamal belum pulang, berbagai hayalan menyedihkan terlintas dalam pikiranku, Aku semakin khawatir Jamal takkan pulang dan membuktikan kata-katanya. Ia pergi meninggalkan aku dan anak-anakku. Rasa pedih menerawang di hati aku tak dapat lagi menahan derai air mata, kucoba menghentikan tangis ini tapi aku tak mampu. Berteriak memanggil Jamal, ah tidak mungkin, apa kata orang. Mencari Jamal, mana mungkin , malam telah larut.

“Hanya engkau ya Allah yang dapat mengembalikan suamiku, berilah ia petunjuk agar kami dapat bersatu lagi mengarungi bahtera cinta ini bersama anak-anak kami,” pintaku dalam hati. Hanya itulah yang mampu aku lakukan.

Karya: Andi Marliah (mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar)
SMK Muhda Bontoala